Kumbang

Sebagaimana orang-orang yg ingin dapet pekerjaan yg lebih baik,  Jaringan pertemanan yg lebih produktif,  tentulah saya memilih profile pic di LinkedIn dengan secermat cermatnya. Harus terlihat cerdas,  percaya diri, tapi jangan sampe terkesan sombong,  tidak norak tapi juga jangan terlalu cuek,  rapi tapi juga jangan berlebihan..  ( pokoknya Lebih ribet daripada milih profile pic blog dan fb deh..  Menurut saya loh ya).

Dan setelah berpikir sebentar ( Saya ga pernah Mikir lama lama)  dari 10-12 photo diri di gallery henpon ( iya loh.. beneran cuma segitu) Saya pilih photo di atas. Pernah foto itu saya unggah di FB , eh lumayan , yang nge-like ribuan.. (hahahaha kidding!) maksudnya 20 orang gitu yang memberikan jempol imutnya. Jadi menurut penilaian subjektif saya, foto ini layak di jadikan profile pic di LinkedIn. septong kecil representasi diri saya di jejaring para profesional, dan mungkin saja… ketika semesta sedang bersepakat untuk memberi kejutan pada saya,  satu hari seorang eksekutif muda mirip Justin Trudeau akan mengirim saya pesan dan berkata, Halo, Profil kamu keren banget, pas dengan yang saya cari selama ini. Kamu bersedia gabung dengan perusahaan saya? sebagai awal saya tawarkan gaji US$3000 perbulan, kamu bisa bekerja dari rumah, jika saya meminta kamu untuk dateng ke kantor pusat di toronto, maka semua akomodasi ditanggung perusahaan… ( Saya orangnya si total ya dalam menghayal.. hihihihi) .😝😝😝

Jadi pada satu hari, memang semesta bersepakat memberi kejutan.

Saat itu saya sedang meyetrika sambil mengulangi mantra pemberi semangat: “This too shall pass.. This too shall pass”, tidak pernah ada tumpukan baju kusut yang terlalu besar untuk dilalui.. dan mantra sejenis itu.. Lalu ada pesan masuk melalui app LinkedIn saya. Tapi bukan dari seorang eksekutif yang mirip Justin Trudeau. Kita sebut saja namanya Bunga.. eh ngga dong.. ini laki laki jadi.. kita sebut saja namanya Kumbang. Nah si Kumbang ini nanyain lowongan kerja. Ya Ngga ada yang aneh sih sebetulnya… Seorang Kumbang random, yang lagi butuh pekerjaan, sign up di LinkedIn lalu berusaha nanya sana sini , biasa aja. Namun, ada satu detail penting, pentiing banget yang di abaikan oleh si kumbang ini ketika bertanya pada orang yang belum dia kenal. Dia lupa bahwa yang berambut cepak belum tentu laki laki.

Agar menghindari tuduhan penyebar Hoax maka saya menyertakan bukti sebagai berikut:

DANGS!!! pesan terakhir itu bikin saya pingin berhenti menyetrika deh. Dia sudah fokus ke Profil pic LinkedIn saya, dan tetap mengira saya laki laki. hh.. Ya sebetulnya ini bukan kejadian pertama atau kedua atau ketiga.. Saya sering banget di kira laki laki ganteng. sungguh!

Sekitar 14 tahun lalu, ketika saya lagi berdiri di bis Damri yang menuju Jatinangor, oh, rambut saya panjang lho saat itu, sedikit melewati bahu, seseorang dari arah belakang  menepuk pundak saya dan berkata :” Punten teh, permisi saya mau lewat” , reflek saya ngeliat dong ke belakang.. Eh setelah orang ini melihat wajah saya , dia malah yang buru buru ngomong gini: “Duh , maaf ya A’, da rambutna panjang, kirain tadi cewe” . deimmmmmm! 

5 tahun lalu, saya pernah jalan bareng tiga ibu ibu.  Kita berempat pingin makan siang nih, begitu sampai di tempat, si pelayannya bilang gini : Selamat dateng bu, mas.. silahkan di meja sini ya. mau pesen apa bu, mas? Haish!

Hmm, jadi sebetulnya si Kumbang random tidaklah melakukan kesalahan ya. memang betul tidak semua yang berambut cepak adalah laki laki, tapi tidak ada urusan dengan rambut disini. Sebagaimana yang telah diakui kumbang, dia sudah fokus ke foto profil saya (baca: udah ngeliatin wajah saya ) sebelum akhirnya memutuskan memanggil saya : mas. Dan ketika saya liat liat lagi profil pic itu, ya memang ga salah si.. Senyum lebar, hidung besar, syal biru penuh gaya, yaa memang ganteng.😜😜😜 lah, malah seneng dibilang ganteng,  gimana sik! Lah, Ya iyalah..  Kan jauh Lebih asik dibilang ganteng daripada berwajah culas atau malas atau nelangsa?  Kamu tau berapa juta orang yang mau melakukan apa aja supaya dibilang ganteng?  Saya memang udah ganteng dari sononya..  Ini aja pun sudah jauh berkurang.  πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Jadi, saya pikir pikir pesan moral dari seluruh kejadian ini adalah: karena secara penampilan saya sudah cukup jantan, maka dalam setiap persoalan hidup yang datang menghampiri, saya harus bisa menghadapi nya dengan jantan! Ga boleh nangis nangis manja cyiiinnnn….

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s